Tampilkan postingan dengan label dibaca yaak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dibaca yaak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Oktober 2011

etika sekretaris

Diposting oleh rissasharissa di 18.55 0 komentar

Etika sekretaris adalah hakikat kebaikan yang perlu dihayati dan dilaukan oleh sekretaris, Hal tersebut meliputi juur, setia, dan tanggung jawab. etika sekretaris antara lain : cara berpakaian, cara berbicara, cara mendengarkan, cara duduk,cara berjalan.


1. Cara Berpakaian

Dalam berbusana seorang sekretaris harus memperhatikan waktu, keadaan jasmani, iklim, motif pakaian, kosmetik dan aksesoris.


2. Cara Berbicara

Seorang sekretaris dalam berbicara tidak boleh ceroboh, agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Tidak boleh memotong pembicaraan dan harus menghindari gossip.


3 Cara Mendengarkan

Usahakan pembicaraan orang lain didengarkan secara cermat, kemudian disaring dan ditarik kesimpulan tentang pokok masalah yang dikemukakan. kadang sekretaris harus tampil menjadi pendengar yang baik.


4. Cara Duduk

Seorang sekretaris yang sedang melkukan pekerjaannya,harus memperhatikan cara duduk yang baik yaitu :

a. Atur badan sedemikian rupa agar tidak merasa pegal, lelah dan bosan.

b. Khusus untuk wwanita agar lutut tetap berdekatan

c. Hillangkan kebiasaan menggetar-getarkan kaki

d. Jangan duduk melorot ke bawah dan kepala bersandar.


5. Cara Berjalan

a. Tidak boleh menyeret-nyeret ssepatu

b. Jaga keseimbangan badan, tidak menunduk atau menengadah.

c. Keluar masuk ruangan wanita mendahului pria

d. Tunjukkan ekspresi yang meyakinkan (percaya diri)

Kamis, 29 September 2011

berbicara yang baik ituuu ...

Diposting oleh rissasharissa di 18.55 0 komentar

ETIKA BERBICARA

Kegiatan berbicara dapat dilakukan dengan beragam tujuan. Jika memperhatikan tujuan, tentu pembicara akan menempatkan dirinya sebagai penyampai informasi, menghibur, atau memotivasi. Kegiatan itu akan berpengaruh terhadap gaya dan teknik penyampaiannya. Jika bertujuan untuk menyampaikan informasi, pembicara dapat bersuara datar dan tidak terlalu sering melakukan gerakan kinestetik lainnya. Jika bertujuan untuk menghibur, pembicara diwajibkan untuk dapat menampilkan sikap empati dan simpati melalui raut muka dan gerakan anggota tubuh. Jika bertujuan untuk memotivasi, pembicara harus bersuara lantang, jelas, dan sarat makna. Dan itu memerlukan kemahiran tersendiri.
Karena kegiatan itu dilaksanakan di depan public atau banyak orang, pembicara perlu mengetahui etika sebagai pembicara. Etika adalah kesantunan atau batasan norma untuk menghormati lawan tutur atau lawan bicara. Menurutku, ada tiga etika yang perlu diketahui dan dipahami oleh pembicara. Ketiga etika itu adalah menjaga konsistensi materi, bersikap jujur, dan menjaga kesantunan.
Etika 1: Menjaga Konsistensi Materi
Banyak pembicara gagal menyampaikan materi kepada pendengar karena ketidakkonsistenannya. Maksudnya, pembicara suka berbicara secara serampangan atau tidak terpola. Jadi, pembicara sekadar berbicara. Maka, keasyikan berbicara itu berakibat kepada terjadinya penyimpangan materi. Etika ini terlalu sering terjadi. Dari mana kita mengetahuinya? Cukup dari reaksi peserta atau pendengar.
Jika para pendengar itu kurang bergairah mengikuti pembicaraannya, pembicara harus cepat bersikap. Pembicara harus berintrospeksi secara spontan: mengapa pendengar mengantuk dan tidak memperhatikanku? Jika pembicara tidak menanggapi kondisi ini, pendengar pun akan mengasyikkan diri seraya melakukan aktivitas menyimpang dari materi.
Etika 2: Bersikap Jujur
Dalam sebuah kegiatan seminar atau diskusi, tentu akan diadakan forum atau session tanya jawab. Pada kesempatan seperti ini, pembicara sering gagap atau kurang siap menerima pertanyaan dari peserta. Bagaimana kita mengetahui bahwa pembicara bersikap demikian? Tentu dari cara menjawab pertanyaan yang sering mbulet atau berbelit-belit. Ini adalah sikap yang tidak baik. Pembicara harus bersikap jujur.
Jika memang pertanyaan itu dirasa berat dan mungkin kurang pas, pembicara sebaiknya menyiasatinya dengan menunda jawaban. Pembicara dapat meminta nomor HP atau email penanya. Itu tentu lebih diapresiasi atau dihargai pendengar daripada jawaban yang berbelit-belit tadi. Pendengar itu berasal dari tataran setting yang berbeda-beda: akademisi, pengusaha, atau mungkin masyarakat awam. Jadi, pembicara tidak boleh menyamaratakan kondisi jika peserta memang bertanya.

Bersikap santun ketika melayani peserta.
Etika 3: Menjaga Kesantunan
Pembicara itu dapat diibaratkan sebagai penjual suara. Kalau suaranya berkualitas, tentu pendengar pun akan membelinya. Pengertian kualitas tentu berdasarkan isi, teknik, dan kesan pendengar. Namun, kesan pendengar harus mendapat prioritas pembicara. Mengapa? Karena pendengar memperhatikan semua tingkah dan sikap serta kesantunan pembicara tersebut.
Agar dapat meninggalkan kesan positif dan mendalam, sebaiknya pembicara bersikap santun. Kesantunan dapat dimulai dari sikap ramah ketika berbicara. Dapat pula dilakukan ketika berpakaian. Dan dapat pula dilakukan ketika menjawab pertanyaan. Banyak pembicara kurang memperhatikan etika. Maka, wajar-wajar saja pendengar bersikap acuh dan tidak memperhatikannya.
Ketika mengawali pembicaraan, sebaiknya pembicara menyapa dengan salam, memperkenalkan diri, dan hantarkan isi secara sistematis. Ketika berpakaian, hendaknya pembicara mengenakan baju yang pantas dan santun. Ketika menjawab pertanyaan, pembicara perlu menyampaikan ucapan terima kasih. Setelah itu, pembicara menjawab pertanyaan itu secara logis dan proporsional.
Jika pembicara sudah mampu menjaga ketiga etika di atas, tunggulah keajaibannya. Pendengar akan memberikan beragam reaksi apresiasi: tepuk tangan, tertawa ramah, dan bertukar alamat. Ini adalah awal dari terbukanya pintu rezeki lainnya. Jadi, pembicara perlu memperhatikan ketiga di atas jika memang berkeinginan agar rezeki terus mengalir kepada dirinya.

 

Administrasi Perkantorankuu ^-^ (sharissa) Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea